Mendengar gerakan di dalam, Lynx segera menoleh, lalu melangkah masuk kembali ke celah tempat Ling Mei beristirahat.

Ling Mei kini mulai bergerak perlahan, alisnya berkerut seolah berusaha membuka matanya dari kegelapan yang menyelubungi.

Beberapa saat kemudian, ia akhirnya tersadar.

Dengan mengerang pelan, Ling Mei membuka kelopak matanya. Pandangannya masih buram saat ia berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya.

Hal pertama yang ia rasakan adalah tubuhnya yang terasa jauh lebih ringan, seolah semua luka yang dialaminya telah lenyap. Namun, pikirannya masih kacau, berputar-putar dalam kebingungan.

Ling Mei menahan napas, hatinya bergetar. "Aku… apakah aku sudah mati?"

Tatapannya beralih ke langit-langit reruntuhan di atasnya yang terlihat retak dan suram, lalu perlahan ia mengalihkan pandangannya ke samping.

Saat itulah, matanya tertuju pada Lynx yang duduk di dekatnya. Lynx sedang menatap Ling Mei dengan ekspresi tenang. Ia terdiam beberapa saat, mencoba memahami situasi yang terjadi.

Tiba-tiba saja, tanpa sadar melihat Xiao Ling berada dihadapannya, ia bangkit dan memeluk Lynx erat, seolah ingin memastikan bahwa mereka benar-benar mati bersama. Keyakinan bahwa dirinya sudah mati begitu kuat, terutama setelah bertarung melawan kekuatan dua binatang iblis yang sangat mengerikan.

"Maafkan aku, Xiao Ling…" suaranya bergetar, penuh kesedihan. "Aku tidak bisa menolongmu. Sekarang kita jadi sama-sama mati."

Lynx, yang masih dipeluk erat, hanya bisa membelalakkan mata.

"Hah?"

Ling Mei terus berbicara dengan suara lirih, pikirannya belum sepenuhnya jernih. "Aku benar-benar bodoh… Aku pikir bisa menyelamatkanmu dari wanita itu, tapi ternyata kita mati bersama…"

Lynx menatapnya, ekspresinya sulit dijelaskan, seperti campuran antara kebingungan dan keheranan. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Suatu kebiasaan yang sering dilakukannya.

Beberapa saat berlalu, hingga akhirnya Ling Mei menyadari sesuatu yang mengejutkan.

Tubuh Xiao Ling yang ia peluk terasa hangat dan hidup.

Lynx tidak terlihat seperti roh yang sudah mati…

Perlahan, ia menarik kepalanya ke belakang, dan saat itu juga, ia menyadari sesuatu yang membuatnya semakin bingung, Lynx tersenyum-senyum geli.

Seketika, wajah Ling Mei memerah.

Dengan cepat, ia mendorong Lynx menjauh. "Tunggu! Apa ini?! Kenapa kau tersenyum seperti itu?!"

Lynx tertawa kecil, nada suaranya ceria. "Aku hanya merasa bingung mendengar kata-katamu tadi."

Ling Mei semakin curiga, kekhawatirannya bergelora. "Kita ini sudah mati atau belum?!"

Lynx menggeleng santai, senyumnya tak pudar. "Kita masih hidup, Ling Mei."

Mata Ling Mei membelalak penuh keheranan. "Apa?!"

Lynx mengangguk, wajahnya berseri. "Ya. Kita belum mati."

Ling Mei semakin kebingungan. "Lalu… dua binatang iblis itu kemana?"

Lynx mengangkat bahu. "Binatang iblis yang mana? Aku tadi melihatmu pingsan, jadi aku membawamu ke sini."

Ling Mei terdiam sejenak, lalu menghela napas lega. "Jadi, makhluk-makhluk itu memang tidak berniat membunuhku dan sudah pergi. Itu sebabnya Xiao Ling tidak menemukannya."

Namun, begitu ia kembali sadar sepenuhnya, dia mengingat sesuatu yang lain.

Barusan… dia memeluk Xiao Ling.

Dan Xiao Ling membiarkannya.

Seketika, rasa malu dan amarah berkecamuk di dalam dirinya.

Tanpa berpikir panjang, Ling Mei langsung berdiri dan menghunuskan pedangnya ke arah Lynx.

"Kau!!!"

Lynx, yang masih duduk dengan santai, mengangkat alis. "Eh? Apa lagi sekarang?"

Ling Mei menudingnya dengan pedang. "Kau sengaja, kan?! Kau membiarkanku berpikir kalau kita sudah mati agar aku melakukan kesalahan besar ini!"

Lynx mengerjap beberapa kali, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebuah kebiasaannya ketika merasa bingung. "Aku bahkan tidak tahu kalau kau akan berpikir seperti itu…"

"Tapi kau tetap membiarkannya!" Ling Mei semakin kesal. "Kau pasti sengaja mengambil kesempatan ini!"

Lynx menghela napas panjang. "Jadi, aku harus bagaimana? Tadi aku sedang menyembuhkanmu, lalu kau tiba-tiba bangun dan memelukku sendiri. Itu bukan salahku, kan?"

Ling Mei menggigit bibirnya, tidak bisa membantah.

Namun, rasa malunya masih menguasai dirinya, jadi ia tetap saja menatap Lynx dengan tajam. "Pokoknya, kalau kau berani menyebut-nyebut kejadian ini lagi, aku tidak akan ragu menebasmu!"

Lynx mengangkat tangannya seolah menyerah. "Baik, baik. Aku tidak akan membicarakannya lagi."

Ling Mei akhirnya menurunkan pedangnya, meskipun wajahnya masih sedikit memerah.

Setelah beberapa saat, ia berbalik dan duduk dengan tenang, berusaha mengembalikan ketenangannya.

Ling Mei terdiam beberapa saat, menatap ke luar celah reruntuhan, di mana kabut hitam kehijauan masih bergulung-gulung. Meskipun suasana di dunia kecil ini terasa lebih terang dibandingkan sebelumnya, tekanan yang menyelimuti tetap terasa menyesakkan.

Lynx mengikuti arah pandangnya, lalu bertanya dengan nada serius, "Bagaimana kau bisa sampai di sini dalam keadaan terluka?"

Ling Mei kembali menatap Lynx, menghela napas panjang yang penuh beban. "Yin Yue."

Lynx menaikkan alisnya, rasa ingin tahunya semakin menguat. "Apa maksudmu? Ke mana dia sekarang?"

Ling Mei mengepalkan tangannya, wajahnya menunjukkan ketegangan. "Dia mengancamku. Jika aku ingin kau dibebaskan, aku harus membantunya melawan dua binatang iblis yang menjaga pintu formasi."

Lynx menatapnya dalam diam, meresapi setiap kata yang diucapkan.

Ling Mei melanjutkan, "Aku tidak punya pilihan lain. Aku bertarung dengan mereka sekuat tenaga… tapi mereka terlalu kuat. Aku akhirnya kalah, dan setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi."

Dia menatap Lynx dengan penuh kebingungan, pikiran yang berputar dalam kepalanya. "Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau ada di sini? Apakah Yin Yue tidak menangkapmu?"

Lynx terdiam sejenak, mengetahui bahwa Ling Mei bisa menjadi terlalu emosional jika mendengar kebenaran. Dia tidak ingin menceritakan bahwa entah bagaimana Yin Yue membuatnya tiba-tiba jatuh ke dalam jurang untuk menyingkirkannya.

Dengan nada ringan, ia berkata, "Aku… mendadak saja ada di sekitar sini tanpa tahu alasannya."

Ling Mei menatap wajah Lynx dengan penuh perhatian. "Awalnya aku kira kamu ditangkap, ternyata kamu hanya dipindahkan olehnya ke tempat ini."

Lynx mengangguk. "Dipindahkan? Apa maksudmu? Apa kamu tahu alasan kenapa mendadak kita terpisah? Apa yang sudah dilakukan wanita itu?"

Ling Mei menghela napas pelan, lalu memberikan penjelasan. "Itu karena artefak teleportasi. Yin Yue memilikinya."

Lynx berpikir sejenak, merenungkan kata-kata Ling Mei. "Artefak teleportasi?"

Ling Mei mengangguk, wajahnya serius. "Dengan artefak itu, dia melemparku dan kedua binatang iblis penjaga pintu formasi ke tempat ini, supaya dia bisa memasuki pintu menuju lapisan berikutnya tanpa gangguan."

Lynx menyipitkan matanya, memahami situasi yang semakin mendesak.

Jika Yin Yue memang memiliki artefak teleportasi, maka itu menjelaskan banyak hal. Namun, itu juga berarti mereka memiliki sedikit waktu untuk bertindak.

"Ling Mei," kata Lynx pelan sambil memberi penekanan kesuaranya. "Kita harus segera menemukan cara untuk mengejarnya."

Ling Mei mengepalkan tangannya, tatapannya dipenuhi tekad yang membara. "Aku tahu. Penduduk kota Huoling masih dalam bahaya saat ini."

Meskipun perasaan tidak nyaman masih menggantung di antara mereka, satu hal sudah jelas—mereka harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat.

Lynx menatap Ling Mei dengan penuh perhatian. "Kalau begitu, kau sudah mengetahui di mana lokasi pintu formasi menuju lapisan berikutnya?"

Ling Mei mengangguk. "Aku sudah pernah ke sana sebelumnya. Jika aku bisa menentukan posisi kita sekarang, mungkin aku bisa menemukan tempat yang kukenal dan menuntun kita ke arah pintu tersebut."

Lynx tersenyum tipis. "Bagus. Kalau begitu kapan saja kamu siap, kita bisa bergerak,  sebelum keadaan semakin memburuk."

Ling Mei hanya menganggukkan kepalanya, lalu diam. Pikirannya sedang berusaha mencerna apa yang sudah terjadi dan apa yang harus dilakukan.

Setelah beberapa saat, Ling Mei mengajak Lynx untuk melanjutkan perjalanan."kita berangkat sekarang. Kita tidak bisa menunda waktu. Dia memiliki artefak teleportasi. Jika tidak cepat, fragment senjata iblis bisa didapatkannya."

Mereka lalu mulai berjalan, langkah Ling Mei tegas dan cepat. Lynx mengikuti di belakangnya, memperhatikan bagaimana sikap Ling Mei kembali dingin seperti biasa.

Selama perjalanan, mereka melewati reruntuhan-reruntuhan bangunan batu yang dulunya mungkin merupakan bagian dari dunia kecil ini sebelum dikorupsi oleh energi iblis. Kabut hitam kehijauan masih menggantung di udara, tetapi jarak pandang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

